Tim Unair: 83 Persen Remaja Tak Pernah Lepas dari Medsos

Surabaya – Lima mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga meneliti fenomena penggunaan media sosial (medsos) di kalangan remaja. Mereka menangkap kesimpulan bahwa perkembangan teknologi komunikasi membuat ‘menjauhkan yang dekat’.

“Tentu ini momok yang sangat menyakitkan bagi sekelompok yang peduli terhadap sosialnya,” kata Siska Kusuma Ningsih, ketua tim, melalui rilis yang diterima Tempo, Rabu, 1 Juni 2016. Hasil kuesioner terhadap remaja usia 13-25 di Kelurahan Mulyorejo, Kota Surabaya, mencatat 83 persen responden menyatakan tidak bisa lepas dari medsos miliknya, walau hanya sehari saja. Artinya, mereka menggunakan medsos selama 24 jam.

“Lalu, 57 persen responden menyatakan mengalami ‘dicuekin’, tidak diperhatikan oleh teman terdekatnya, gara-gara asyik bermain media sosial di gadget-nya,” ujarnya.

Hal yang sering terjadi saat berkumpul, menurut Siska, remaja hanya berfokus pada gawai (gadget) masing-masing tanpa memperhatikan apa yang terjadi dan yang sedang diperbincangkan orang-orang di sekelilingnya. Mirisnya, ini banyak terjadi di lingkungan terdekat. “Artinya, tanpa kita sadari sedikit demi sedikit medsos telah mampu menumbuhkan dampak negatif dan berkembang cepat akhir-akhir ini,” tutur Siska.

Lebih lanjut, komunikasi secara langsung tak lagi memiliki esensi yang bermakna. Mereka beranggapan bahwa mengekspresikan sesuatu yang sedang dirasakannya saat ini melalui medsos, akan jauh lebih nyaman dan menyenangkan jika dibandingkan harus menyatakan secara verbal kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan, hanya demi melihat sesuatu yang sedang terjadi dan apa yang sedang ngehit saat ini, mereka rela untuk tidak bersatu dalam lingkungan sosialnya.

Tim Unair pun mengimbau agar masyarakat, termasuk remaja, bijak menggunakan medsos. Berkomunikasi sesuai yang perlu dikomunikasikan melalui medsos. Namun, berkomunikasi secara langsung dalam lingkup sosial akan jauh memberikan keterkaitan hubungan yang harmonis. “Update jejaring sosial boleh sih, tapi tetap ingatlah bahwa Anda hidup dalam suatu lingkungan sosial,” imbuh Evi Nur Laili Rahma Kusuma.

Kelima mahasiswa tersebut terdiri atas Siska Kusuma Ningsih, Dinda Salmahella, Evi Nur Laili Rahma Kusuma, Fenny Eka Juniarty, dan Fitria Kusnawati. Hasil kajian mereka ajukan sebagai proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Sosial Humaniora (PKMP Soshum) berjudul “Pengenyampingan Interaksi Sosial secara Langsung oleh Masyarakat sebagai Dampak Munculnya Jejaring Sosial (Medsos)”. Hasil kajian tersebut lolos dan meraih dana hibah dari Dirjen Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) tahun 2016.

tempo.co

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *