Situ Cisanti – Melipir ke Selatan Bandung, Menghirup Segarnya Udara di Kilometer 0 Citarum

Sekitar 80 menit perjalanan santai menggunakan sepeda motor dari Bojongsoang melalui Ciparay, pemandangan bak lukisan menyambut hangat di Kertasari.

Jalan raya di Ciparay dan Pacet yang sangat ramai lagi berdebu dilalui, berganti menjadi jalan yang diapit hamparan kebun sayuran di kaki bukit dan pegunungan hijau.

Udara yang tadinya panas, seketika menjadi sejuk saat memasuki salah satu kecamatan di ujung Kabupaten Bandung ini.

Kepenatan akibat hiruk-pikuk saat melewati pasar Ciparay dan Pacet pun lenyap, saat menyaksikan para petani bercocok tanam dan memikul panen sayuran dari kebunnya.

Matahari pagi di samping sebelah timur menyinari setiap lekuk gunung dan bukit.

Udara sejuk lagi segar menyambut, dibalut aroma pohon pinus dan cemara yang berdiri tegak di sepanjang pinggir jalan.

Sekitar 20 menit lagi, jalanan berliku dan menanjak ini akan mengantarkan ke hulu Sungai Citarum.

Pemandangan kembali berganti seiring laju kendaraan, dari suasana hamparan kebun sayuran, kemudian menjadi hutan.

Rumah dan bangunan semakin jarang ditemui, pepohonan tinggi mulai menyambut.

Di sebelah kiri jalan, terdapat gerbang dengan papan bertuliskan Wana Wisata Situ Cisanti.

Di sinilah lokasi hulu Sungai Citarum itu.

Kendaraan diparkir di antara deretan pohon katu putih dan pinus, karcis dibayar seharga Rp 10 ribu per orang.

Anak tangga menurun langsung mengantarkan pengunjung ke jembatan dan pintu irigasi Situ Cisanti.

Dari sekitar pintu irigasi, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan apik, danau berair jernih kehijauan yang diapit bukit-bukit hijau.

Pohon-pohon berdiri menjulang mengelilinginya, dengan berbagai kicauan suara burung-burung dan serangga musim kemarau dari puncaknya.

Selain dermaga kayu di pinggir danau bernuansa romantis, tampak sebuah monumen berwarna merah berbentuk huruf “Kilometer 0 Citarum”.

Puncak Gunung Wayang menjadi latar danau dan mata air di hulu Sungai Citarum ini.

Sejumlah pengunjung tampak asyik menelusuri jalan setapak di sekeliling danau, sambil berfoto.

Warga lainnya memilih makan bersama di bawah pohon cemara di tepi danau.

Beberapa orang lagi duduk di tepi danau sambil memegang kail pancing.

Sejumlah tokoh Jawa Barat, seperti Deddy Mizwar dan Dede Yusuf, diketahui sering mengunjungi Situ Cisanti untuk menebar benih ikan dan melestarikan hulu Sungai Citarum tersebut.

Bahkan beberapa kali, sejumlah mahasiswa mendatangi tempat tersebut untuk menanam pohon sampai mendirikan saung.

Jika cuaca masih cerah dan masih siang, pengunjung dapat mengambil jalur pulang lewat perkebunan ke arah Pangalengan.

Jalan ini melintasi perkebunan teh PTPN VIII Kertasari, Purbasari, dan Malabar.

Beberapa bagian jalan hotmiksnya sedikit mengalami kerusakan.

Tiga kawasan perkebunan ini dapat dilalui selama 45 menit sampai Gerbang Perkebunan Malabar.

Selain dimanjakan oleh pemandangan hamparan perkebunan teh dan pegunungan, pengunjung dapat menjumpai sejumlah gedung pabrik pengolahan teh, seperti di Kertasarie, Purbasari, dan Malabar.

Pagi sampai siang hari, para pemetik teh masih dapat dijumpai.

Malabar Tea Corner dapat dijadikan rest area sambil menikmati berbagai macam teh dari perkebunan Malabar, termasuk teh putih yang sangat eksklusif.

Jika masih memiliki waktu banyak, pemandian air panas Cibolang yang masih terletak di Perkebunan Teh Malabar pun dapat menjadi tempat relaksasi, sebelum meluncur ke Bandung melalui pusat perkotaan Pangalengan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *