Pesona Pulau Sagori “Menyihir” Para Wisatawan

WISATA bahari merupakan salah destinasi unggulan Indonesia untuk menarik minat wisatawan dalam dan luar negeri berwisata. Wisatawan mancanegara sangat merindukan pantai dengan air yang jernih, berpasir putih, jauh dari hiruk pikuk warga, dan kondisinya masih terjaga.

Mereka sangat menyukai keaslian sebuah destinasi wisata. Apalagi destinasi wisata itu belum terjamah orang banyak, pasti sangat diminati. Bicara masalah pantai dan pesona wisata bahari, Indonesia adalah surganya. Pantai dan pulau-pulau eksotis terhampar dari Aceh sampai Papua sungguh luar biasa indah dan menawan. Tak percaya?

Tengok saja Kabupaten Bombana di Sulawesi Tenggara yang telah menetapkan Pulau Sagori sebagai salah satu destinasi wisata bahari dalam menarik wisatawan datang mereguk pesonanya.

Pulau Sagori masuk dalam Kelurahan Sikeli, Kecamatan Kabaena Barat. Panjang pulau ini sekitar 3 kilometer dan paling lebar sepanjang 200 meter. Dilihat dari Pantai Sikeli di Pulau Kabaena, Pulau Sagori bagikan garis lurus alias datar saja. Tidak ada pohon kelapa di sini. Saat ini penduduk Suku Bajo menetap di sana.

Jika dilihat dari gunung Watu Sangia atau pegunungan di Pulau Kabaena, Pulau Sagori sungguh indah. Sagori menampilkan sapuan empat warna, yakni biru tua di bagian luar, biru muda, garis putih, kemudian hijau di tengah.

Dari Pelabuhan Sikeli, Pulau Sagori hanya berjarak sekitar 4 kilometer dan bisa ditempuh dengan katingting atau perahu nelayan sekitar 30 menit. Menunggu momen matahari terbenam (sunset) adalah saat yang ditunggu-tunggu wisatawan atau pelancong.

Bupati Bombana, M Tafdil sangat antusias memperkenalkan potensi wisata di daerahnya. “Kami punya benteng, kami punya desa wisata, ada Pulau Sagori, berpasir putih dan masih ada kapal bekas VOC karam di sana,” katanya di Desa Wisata Tangkeno, Selasa (22/12/2015) siang.

Selasa sore, kesempatan mengunjungi Sagori pun tiba. Rombongan media yang diundang Pemkab Bombana sudah bersiap-siap di pelabuhan Sikeli dan menaiki KM Pantai Gading menuju Pulau Sagori. Sore yang cerah mengawali perjalanan kami. Tambatan tali kapal dilepas. Perlahan-lahan KM Pantai Gading meninggalkan pelabuhan Sikeli.

Di sore hari, Gunung Watu Sangia atau “gunung kembar” terlihat menjulang tinggi di Pulau Kabaena. Kesempatan tak disia-siakan berfoto di kapal dengan latar belakang Watu Sangia. Sungguh merupakan kesempatan yang sangat jarang bisa diperoleh bagi mereka yang selalu sibuk terperangkap dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Kadang KM Pantai Gading memperlambat lajunya karena karang-karang mulai terlihat jelas dan khawatir merusak kehidupan bawah laut. Setelah merasa aman, suara mesin kapal kembali meraung dan kapal melaju kembali.

Sekitar 30 menit, KM Pantai Gading mendekati Pulau Sagori. Namun kapal tak bisa mendekat atau sandar di dermaga Pulau Sagori. Padahal di pulau tersebut terlihat ada dermaga menjorok ke tengah laut.

“Dermaga itu sudah rapuh. Belum lagi perairannya dangkal dan banyak karang, kapal harus hati-hati,” kata awak kapal.

Karena KM Pantai Gading tak bisa mendekati Pulau Sagori, sebagai gantinya kami menggunakan katinting atau perahu nelayan menuju pulau tersebut.

Mendekati pantai Sagori, Aldi Taher, aktor dan musisi Trio Ubur Ubur tak kuasa menahan kekagumannya memandang keindahan Sagori menjelang senja. “Wow, indahnya. Airnya jernih, karangnya jelas kelihatan. Dapat lihat sunset lagi,” katanya takjub.

Tak perlu berlama-lama, kami pun satu per satu naik ke perahu yang siap membawa ke bibir pantai Sagori. Raungan mesin perahu mengantar kami ke pantai sembari menatap Sang Surya yang sepertinya malu-malu mulai tenggelam di ufuk barat.

Selain airnya jernih, pasir Pulau Sagori juga lembut. Keindahan Sagori di senja hari semakin menambah semangat rombongan untuk segera menginjakkan kaki di pulau ini. Sang Surya pun semakin condong di ufuk barat.

Menikmati senja di Pulau Sagori memang menyenangkan. Dhodi Syailendra, fotografer Majalah Kabare tak bosan-bosannya mengabadikan keindahan senja Sagori lewat kameranya. Memotret senja ditemani desiran angin dan suara riak-riak air laut merupakan perpaduan yang menggiring pikiran fokus memotret matahari tenggelam di garis cakrawala.

Warna jingga begitu dominan saat mata menyapu garis pantai yang masih bersih itu. Tak ada terdengar suara mesin kapal sepanjang pantai. Hanya terdengar ucapan bernada kekaguman dan pujian terhadap pantai ini.

Ke depan, Pemkab Bombana akan menjadikan pulau ini sebagai salah satu destinasi wisata bahari untuk menarik wisatawan.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bombana, Janariah, S.Sos kepada KompasTravel, selama ini wisatawan mancanegara banyak yang datang ke Sagori menggunakan kapal layar atau yacht.

Sejarah mencatat, perairan Pulau Sagori disebut-sebut tempat karamnya kapal layar VOC pada abad 17. Kapal tersebut diperkirakan berasal dari China karena penduduk setempat meyakininya masih menyimpan harta karun berupa piring antik dan gerabah. Ini jelas potensi bawah laut Sagori yang belum digarap terutama untuk wisatawan penyuka selam (diving).

Janariah menuturkan selama ini wisatawan yang membawa yacht kerap berlabuh di Sagori.

“Sebagai peserta Sail Indonesia, mereka berlabuh di perairan Sagori,diving dan snorkeling dan setelah itu balik ke kapal dan melanjutkan perjalanan. Ke depan kami mau mereka merapat ke Sikeli untuk memperkenalkan obyek wisata seperti air terjun dan benteng di Desa Wisata Tangkeno,” kata Janariah.

Kalau Anda tak memiliki waktu menikmati senja di Pulau Sagori, luangkan waktu Anda pada pagi hari dan menghabiskan waktu dengan berenang atau snorkeling menikmati kecantikan Sagori sebelum kembali menuju Kota Kendari.

Untuk mempersiapkan Sagori sebagai destinasi wisata bahari andalan Kabupaten Bombana, pemerintah setempat berencana memindahkan sekitar 80 kepala keluarga yang menghuni pulau tersebut. Pemkab akan memindahkan dan merelokasi mereka ke pulau terdekat dengan membantu mendirikan perumahan dan sekolah.

Pemkab Bombana benar-benar menyiapkan Pulau Sagori sebagai destinasi wisata bahari untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya datang ke sana di waktu mendatang.

Menuju Sagori

Untuk menuju Pulau Sagori tak ada pilihan lain yakni menggunakan jalur laut. Jarak Pulau Sagori dari Pelabuhan Sikeli, Pulau Kabaena sekitar 4 kilometer. Tersedia perahu nelayan dengan tarif Rp 25.000 sekali jalan. Namun untuk lebih pasti disarankan menyewa kapal dengan tarif Rp 400.000 hingga Rp 600.000 (pergi pulang).

Ke depan, Sagori sangat membutuhkan perbaikan sarana transportasi. Apalagi belum ada penginapan dan restoran memadai serta penyediaan peralatan untuk snorkeling dan diving yang diperlukan wisatawan di pulau tersebut.

Padahal, sebagai destinasi wisata bahari, Sagori termasuk obyek wisata yang potensial “menyihir” pelancong untuk menginjakkan kaki dan mengagumi keindahan pantai dan kemolekan panorama bawah lautnya…

Sumber: KOMPAS.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *