Makna Guru sebagai pendidik dan Teknologi informasi

Teknologi informasi yang semakin berkembang dari waktu ke waktu semakin mempermudah berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan. Dulu, untuk mencari sebuah buku referensi, seseorang harus berkelana ke berbagai toko buku atau perpustakaan untuk mendapatkannya. Sekarang, untuk mendapatkannya cukup dengan duduk di depan komputer lalu berselancar di internet. Lalu, dengan sekali klik referensi tersebut sudah dapat diunduh dan disimpan di komputer. Tidak hanya itu, dunia maya juga menyediakan “guru-guru virtual” bila dirasa referensi yang sudah didapatkan belum cukup. “Guru-guru virtual” yang dimaksud adalah sekelompok orang yang mengunggah video tutorial di situs-situs seperti youtube. Jadi dengan adanya “perpustakaan virtual” dan “guru-guru virtual”, seseorang bisa mempelajari apapun secara otodidak. Masih perlukah adanya guru dan sekolah?

Guru dan sekolah sebenarnya diperlukan dan harus dipertahankan eksistensinya karena memang kedua hal tersebut tidak dapat digantikan oleh teknologi. Teknologi seharusnya berperan sebagai pendukung dan penyokong bagi guru dan sekolah agar mutu pendidikan yang ada semakin meningkat. Namun, tidak dapat dielakan lagi profesi guru secara sedikit demi sedikit sudah mulai digantikan. Pertanyaannya adalah mengapa fenomena ini terjadi? Jawabannya jelas. Guru masa kini tidak berfungsi selayaknya guru.

Menurut UU No.14 tahun 2005 mengenai Guru dan Dosen, pasal satu menjelaskan : “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama, mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menegah”. Dalam rentetan tugas utama tersebut, hal yang paling pertama disebut adalah mendidik.

sayangnya, arah pendidikan sekarang mulai salah arah. Sekolah dianggap berhasil apabila seluruh muridnya lulus 100%. Sekolah dianggap unggul apabila rata-rata nilai UN tertinggi diantara sekolah-sekolah lainnya. Sekolah dianggap terbaik apabila murid-muridnya dapat menjuarai olimpiade sains. Sehingga, stigma-stigma seperti ini menjadikan guru kehilangan fungsinya. Guru dipaksa untuk menjejalkan berbagai macam buku dan pengetahuan kepada setiap murid. Alhasil, guru pun akhirnya bertindak sepertiĀ flash disk. Guru hanya sebagai perantara ilmu dari buku ke murid. Bahkan, murid sendiri pun juga terkena imbas dari salah arahnya pendidikan. Murid-murid pun lebih memilih mendalami pelajaran di bimbingan belajar yang memang menawarkan jalan pintas dalam belajar. Hasilnya, peran guru untuk murid pun semakin berkurang. Mungkin jika arah pendidikan tidak segera diubah, guru pun semakin tidak punya peran dan akan diganti oleh bimbingan belajar dan “guru-guru virtual”.

Maka, peran guru sebagai pendidik harus diperkuat. Etika, kepemimpinan dan kasih sayang adalah sesuatu yang hanya diajarkan oleh guru saja. Inilah yang membuat guru menjadi sosok yang tak tergantikan di dunia pendidikan. Guru tidak boleh diperlakukan dan memperlakukan dirinya sendiri sebagai perantara ilmu saja. Seorang guru dinyatakan berhasil bukan didasarkan oleh banyaknya murid yang meraih nilai tinggi di UN. Keberhasilan seorang guru hanya dapat dinilai nanti saat anak muridnya sudah dewasa dan bermasyarakat. Keberhasilan seorang guru dalam mendidik akan dinilai saat anak didiknya menjadi seorang koruptor atau menjadi pemimpin yang jujur.

Maka, pandangan terhadap pendidikan harus diubah. Sekolah tidak boleh dibutakan oleh nilai-nilai semata sementara mengabaikan “nilai (value)” yang sesungguhnya. Pendidikan adalah proses pendewasaan manusia dan hasil dari pendidikan adalah manusia dewasa yang mampu hidup untuk sesamanya. Jangan sampai disalah artikan menjadi menjadikan seseorang pintar. Apabila pendidikan kita masih berorientasi nilai bukan “nilai”, bisa jadi suatu saat dimasa depan “guru-guru virtual” ini yang akan mengajar di sekolah.

Sumber : Kompasiana.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *