Aplikasi iFlee, Deteksi Banjir Berbasis Android ala Mahasiswa UGM

SLEMAN – Setidaknya lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menciptakan aplikasi pendeteksi dini bencana banjir berbasis android, iFlee.

Aplikasi ini muncul mengingat banjir merupakan salah satu bencana yang kerap melanda wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pada musim penghujan saat ini, banjir juga melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Meminimalisir dampak dari banjir, diperlukan sistem peringatan dini yang mudah diakses masyarakat umum. Sehingga tim yang terdiri dari Asri Nur Latifah, Suryo Prakoso Putra, Zufar Amanulah M, Toga Ardian S, dan Shalahuddin Al-Ayubi, mengembangkan sistem berbasis Internet of Things yang dapat mengatasi permasalahan tersebut dan dinamakan iFlee.

Sistem ini merupakan peringatan dini yang menghubungkan antara perangkat pendeteksi ketinggian air dengan aplikasi yang ada pada smartphone.

Salah satu anggota tim, Suraplikasi-iflee-deteksi-banjir-berbasis-android-ala-mahasiswa-ugm-9bV9l40EQTyo Prakoso Putra menuturkan perangkat iFlee yang terpasang di beberapa titik rawan banjir akan mengirimkan informasi realtime mengenai kondisi ketinggian air di lokasi tersebut.

Jika ketinggian air mencapai batas tertentu, perangkat akan langsung mengirimkan informasi peringatan dini kepada warga yang berada di sekitar lokasi dengan dua cara, melalui pesan teks singkat (SMS), dan melalui notifikasi pada aplikasi dalam bentuk animasi. Aplikasi ini dapat membantu mitigasi bencana banjir dengan memberikan informasi teraktual melalui smartphone yang digunakan oleh banyak orang.

“iFlee merupakan sebuah inovasi yang menggabungkan kemampuan software-making,realtime server management, hingga social networking yang berfokus pada bencana,” ujar Suryo, dalam rilis diterima Harianjogja.com, akhir pekan lalu.

Perangkat keras yang digunakan dalam sistem informasi ini terdiri atas sensor, mikrokontroler dan modul GSM. Perangkat ini menerapkan penggunaan energi berkelanjutan dengan panel surya sebagai sumber energinya yang disimpan di dalam sebuah power bank.

Sementara itu, perangkat lunak iFlee dibuat dengan bahasa pemrograman android yang telah dikenal oleh masyarakat sehingga lebih mudah dalam penggunaan dan pengembangannya.

“Trial project aplikasi iFlee akan diterapkan di Jakarta mengingat fungsi kota ini sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat peradaban di negara ini mulai edukasi, sosial, politik dan ekonomi walau berlokasi di daerah rawan bencana,” imbuhnya.

Sebagai jembatan komunikasi, aplikasi iFlee bekerja dengan real time server yang terintegrasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sehingga aliran informasi menjadi lebih cepat dan valid.

Selain itu, mereka juga telah menjalin kerja sama dengan BNPB Daerah Istimewa Yogyakarta agar teknologi ini dapat diterapkan di Jogja, tidak hanya untuk mendeteksi ketinggian air namun juga untuk mendeteksi ketinggian lahar dingin.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *