3 Cara Mudah Membuat Komposisi Kota yang Berdimensi

Jakarta – Beranjangsana ke sebuah kota, baik untuk wisata ataupun business trip, sangat dibatasi oleh waktu. Di sebuah destinasi, bisa jadi cuma punya waktu 2 atau 3 jam. Beberapa hanya numpang lewat.

Dengan keterbatasan itu, bagi pecinta fotografi dengan kamera di tangan, sangat sayang melewatkan sudut-sudut kota yang indah dan penuh kejutan. Sepertinya kamera ingin menelan mentah-mentah seluruh urban space yang tersaji di depan mata. Lengkap dengan detail yang khas, penanda kota yang sangat orisinil dan karakter warga yang tidak bisa di temui di tempat lain.

Pada kondisi seperti itu, yang diperlukan adalah cukup tenang dan tidak pecah konsentrasi. Tetaplah berpegang pada metode dasar fotografi. Dari soal teknis (ISO-shutter-diafragma), komposisi-angle, moment dan pencahayaan sampai pada pesan dan makna yang ingin disampaikan.

Berikut tips mudah memotret dinamika kota (urban space) untuk memperoleh komposisi ruang yang lebih berdimensi. Biasa dilakukan siapa saja, dari amatir hingga profesional. Dapat dilakukan di kamera smartphone sampai kamera DSLR.

Pertama, gunakan variabel X dan Y seperti pada garis bantu matematika. X untuk membuat garis horizontal (ke samping), Y untuk vertikal (garis ke atas). Kemudian tempatkan subjek foto (point of interest) pada sepertiga bidang kanan atau kiri, bawah atau atas.

Misalkan untuk memotret deretan toko yang menarik atau mural kota yang berwarna, posisikan kamera dengan frontal di seberangnya. Bingkai dengan kreatif dan tunggu momen terbaik untuk memencet shutter.

Seperti pada contoh foto pertama, mural kota di Singapura (atas) dan San Francisco ini dibingkai dengan komposisi paling simpel tanpa melupakan kedalaman cerita. Komposisi ini mudah dicerna dengan pesan yang ‘to the point‘ yakni soal kekayaan mural yang membuat dinding kota lebih berbicara.

Kedua, tambahkan variabel Z sehingga komposisi ruang menjadi xyz. Fungsi z membuat gambar bukan lagi 2 dimensi (xy) namun lebih 3 dimensi (xyz). Dari yang kotak biasa menjadi kubus yang mempunyai ruang dan daya imajinasi.

Masih pada contoh mural kota yang unik, Anda bisa menggeser angle serong (menyamping). Beri ruang lebih untuk jalanan/pedestrian untuk bercerita. Sekaligus gunakan garis imajinasi pedestrian tersebut menjadi variabel Z untuk memperkuat fokus narasi.

Pada contoh kedua ini, dengan serong sedikit membuat garis ruang yang lebih berdimensi. Perbedaan dengan contoh pertama, mural kota tidak lagi menjadi aktor utama karena harus ‘berbagi panggung’ dengan elemen ruang kota (pedestrian). Sementara warga yang lewat berfungsi sebagai pembanding dan menunjukan seberapa besar mural tersebut.

Ketiga, gunakan ketiga variabel garis tersebut dengan lebih dinamis. Bisa frontal di tengah untuk membuat lorong kota yang imajiner atau membuat titik tidak terhingga pada sudut-sudut kota.

Misalnya ketika walking tour, posisikan camera berada di tengah jalan/di antara gedung-gedung. Arahkan kamera sebidang dengan deretan bangunan dan rekam kekuatan arsitektur, bentang kota dan aktivitas warga dengan baik.

Seperti terlihat pada contoh ketiga, dimensi ruang berada pada titik tengah. Namun ceritanya ditempatkan di pinggir frame supaya tidak monoton

Selebihnya, Anda bisa mengotak-atik 3 cara di atas dengan fleksibel, inovatif dan tidak kaku. Buatlah improvisasi di lapangan dengan menyenangkan dan dinamis. Lakukan terus menerus sampai menemukan keasyikan tersendiri saat memotret urban scape.

Pada suatu titik, foto-foto yang dihasilkan akan lebih variatif dan menggugah selera. Selain itu, momen jalan-jalan singkat pun mampu dimanfaatkan dengan kualitas dan kuantitas yang sebanding.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *